Senin, 27 Mei 2013
Penyebab Diare dan Gejala Diare
Penyebab Diare
Diare bukanlah penyakit yang datang dengan
sendirinya. Biasanya ada yang menjadi pemicu terjadinya diare. Secara
umum, berikut ini beberapa penyebab diare, yaitu:
- Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit.
- Alergi terhadap makanan atau obat tertentu.
- Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti: Campak, Infeksi telinga, Infeksi tenggorokan, Malaria, dll.
- Pemanis buatan
Di Indonesia, sebagian besar diare pada
bayi dan anak disebabkan oleh infeksi rotavirus. Bakteri dan parasit
juga dapat menyebabkan diare. Organisme-organisme ini mengganggu proses
penyerapan makanan di usus halus. Dampaknya makanan tidak dicerna
kemudian segera masuk ke usus besar.
Makanan yang tidak dicerna dan tidak
diserap usus akan menarik air dari dinding usus. Di lain pihak, pada
keadaan ini proses transit di usus menjadi sangat singkat sehingga air
tidak sempat diserap oleh usus besar. Hal inilah yang menyebabkan tinja
berair pada diare.
Sebenarnya usus besar tidak hanya
mengeluarkan air secara berlebihan tapi juga elektrolit. Kehilangan
cairan dan elektrolit melalui diare ini kemudian dapat menimbulkan
dehidrasi. Dehidrasi inilah yang mengancam jiwa penderita diare.
Selain karena rotavirus, diare juga bisa
terjadi akibat kurang gizi, alergi, tidak tahan terhadap laktosa, dan
sebagainya. Bayi dan balita banyak yang memiliki intoleransi terhadap
laktosa dikarenakan tubuh tidak punya atau hanya sedikit memiliki enzim
laktose yang berfungsi mencerna laktosa yang terkandung susu sapi.
Tidak demikian dengan bayi yang menyusu
ASI. Bayi tersebut tidak akan mengalami intoleransi laktosa karena di
dalam ASI terkandung enzim laktose. Disamping itu, ASI terjamin
kebersihannya karena langsung diminum tanpa wadah seperti saat minum
susu formula dengan botol dan dot.
Diare dapat merupakan efek sampingan
banyak obat terutama antibiotik. Selain itu, bahan-bahan pemanis buatan
sorbitol dan manitol yang ada dalam permen karet serta produk-produk
bebas gula lainnya menimbulkan diare.
Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa
muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin
yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.
Orang tua berperan besar dalam menentukan
penyebab anak diare. Bayi dan balita yang masih menyusui dengan ASI
eksklusif umumnya jarang diare karena tidak terkontaminasi dari luar.
Namun, susu formula dan makanan pendamping ASI dapat terkontaminasi
bakteri dan virus.
Gejala Diare
Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 x atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai:
- Muntah
- Badan lesu atau lemah
- Panas
- Tidak nafsu makan
- Darah dan lendir dalam kotoran
Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut
dan kejang perut, serta gejal-gejala lain seperti flu misalnya agak
demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan
parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam
tinggi.
Diare bisa menyebabkan kehilangan cairan dan
elektrolit (misalnya natrium dan kalium), sehingga bayi menjadi rewel
atau terjadi gangguan irama jantung maupun perdarahan otak.
Diare seringkali disertai oleh dehidrasi
(kekurangan cairan). Dehidrasi ringan hanya menyebabkan bibir kering.
Dehidrasi sedang menyebabkan kulit keriput, mata dan ubun-ubun menjadi
cekung (pada bayi yang berumur kurang dari 18 bulan). Dehidrasi berat
bisa berakibat fatal, biasanya menyebabkan syok.
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar